Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

If You Are Raising multilingual Kids | Membesarkan anak multilingual? Saya juga.

You are not alone raising multilingual kids, I have 2 of my own, they are 6 and 3 yo and they can pick up more than 3 languages while the eldest one start the fourth one slowly . I have found no difficulties in raising them in even 3 languages, what I feel the success keys are all start at home. Me and my husband, we are communicating in English, me and my kids are Bahasa Indonesia, and kids to dad in Urdu (native language of Pakistani), Initial they r still (and still is) using some words in English or in Urdu to the words they couldn't get in bahasa,  I don't think it's a big deal, because every kids will develop their vocabulary accordingly.

With all the myth spread which makes most parents hesitate to teach their kids the second language, third or even more, such as giving confusion to the kids, slow to speak, or ended up with mixing both the language... Honestly the first two reasons I have found no issues in both of my kids, they even faster and more talkative than other kids (which I can't bear it)... and for the other reason that they will end up with mixing all languages... I absolutely didn't mind at all, since my self start bilingual myself I often use English words in my Bahasa, or even I use Bahasa in my English when  I replied my husband before the word are not in English... Nowadays, (I'm talking about Indonesia) many of us found many adults did it... not only in English words, but we found them talking using many local languages in whole conversation... Sundanese, Javanese, Betawise, I guess he have no offense on these things.

If you asked me about their academic result, I just only can praise God how much I'm lucky to have them, they both doing a great job in their study.

Basically Both of my kids has a strong Urdu, that's the main thing. Some friends here found their kids are reluctant to be bilingual multilingual and cos of their mothers are not Urdu speaking, with worst Urdu ever and even me, made monolingual kids (Urdu speaking) themselves don't speak Urdu properly, some words they got from non-Urdu speaking mother who tried to communicate in urdu are totally have different sound or even  giving different meaning to the essence of the conversation... That's really bad.

As for third language of my kids, initially they just understand the sentences from me and my husband conversation, which they really picked up so easily, soon after they entered the school which is English medium school they start using it in their own world while they are playing alone and playing role, I didnt emphasized them to use English, but kids love it cos they are happy with their fun school.

The elder one have started fourth language which is Arabic in schol, again I won't pushed him to be good in Arabic, I let him explore the language, let him practicing by his own will. So let see how many languages he will end up with... Languages are treasure we have to dig up every time... no limit in learning language... 

Thursday, May 26, 2011

Wanita setelah menikah


Wanita dan pria disatukan dalam pernikahan yang diikatkan oleh Allah SWT bukan oleh manusia. Maka aturan dalam berumah tangga haruslah aturan Allah swt. Allah mengatur posisi pria sebagai suami dan wanita sebagai istri. Walau dibelakang pasti ada nafsu yang mengikuti tapi lagi-lagi Allah SWT mengatur bagaimana nafsu-nafsu itu dikendalikan bukan dimatikan

Sedikit terusik oleh comments di sebuah posting-an teman 
krn sebenernya menyiapkan makan itu bukan kewajiban istri, itu kewajiban suami malah istri hanya membantu...
 karena ga mungkin main ceplos aja di wall orang yah mending di blog sendiri...

Aneh rasanya membaca komen tersebut, bahwa istri hanya berlaku sebagai pembantu suami... Bagi saya justru ini merendahkan istri... seenaknya istri dibilang pembantu suami (heheh) lah wong saya itu justru saya  yang di-service suami... Suami dengan penuh kasih sayang keluar rumah demi membawa sayuran untuk diolah oleh sang istri. Nah sebagai tindakan terima kasih maka "MENYAJIKAN MAKANAN" dalam rasa dan aroma yang menggugah selera suami maka itu adalah "KEWAJIBAN".

Tapi kemudian di menit berikutnya terungkap juga bahwa ada orang yang berfikiran "Lho ibunya ngapain aja kok bapaknya yang belanja???" 

Buat informasi di Pakistan, itu hal yang normal loh, Seorang suami pulang dari kantor membawa tentengan bawang merah, tomat, kentang (ini biasa list saya buat suami saya).

Kemudian dalam hati pun saya menggodok kembali makna dalam berumah tangga, makna sebagai wanita, makna sebagai istri... (maaf  saya ga memaknai suami... karena tugas masing-masing memaknai posisi setelah dapat jabatan)

Tidak ada persaingan dalam berumah tangga, siapa yang di atas dan siapa yang dibawah, keduanya memiliki kewajiban untuk saling mendukung. Bahkan kewajiban dalam membantu. Tapi tidak melanggar batas-batas yang telah disyariahkan, namun ada pula pertimbangan darurat

Adalah kewajiban suami memberikan nafkah bagi keluarga. Yang saya pahami dalam ilmu keislaman yang saya terima bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah rumah, dan saat wanita keluar rumah maka syetan-2 menghampirinya dari atas-bawah depan belakang.

Jika ada yang berkomentar "loh emang ibunya kemana kok bapaknya yang belanja" harusnya orang tersebut harus berkomentar saat melihat wanita bekerja di luar rumah "Loh kok ibu kerja, kan Mencari nafkah tugas bapak"

Banyak hal yang saya pelajari dari perbedaan kultur Indonesia-Pakistan yang membuat saya belajar banyak  tentang wanita. Sebelumnya kepala saya dicecoki dengan PERSAMAAN HAK antara pria dan wanita, untuk apa sekolah yang tinggi jika hanya masuk dapur, atau sebagai wanita muslimah meski berjilbab harus tampil modis.

Tidak seharusnya menilai syariat Islam sesuai keinginan kita, semisal dalam persamaan hak, si Istri ingin juga bisa keluar rumah seperti berkarir, atau arisan rt demi melawan jenuh di rumah (atau pingin punya duit sendiri). Persamaan dalam berdakwah, si Istri pergi berdakwah tanpa ditemani mahram. Saya pikir harus kembali me-orientasikan wanita pada posisinya (tidak dalam konteks feminism ya).

Tentu Persamaan dalam menuntut ilmu setinggi-tingginya bagi wanita memang bukan harus berakhir di dapur. Tapi ini adalah demi pendidikan anak-anak.

Dalam keluarga saya, kami berguyon pada posisi kami masing-masing... kami ini ibarat pasangan Supir dan Pembantu... Selalu disetiap kesempatan, saat  teman saya sesama Indonesian mengatakan "come to our place" suami saya selalu menjadi "Well, I am just a driver". Suami mengerti benar posisi sebagai suami bahwa tidak layak istrinya keluar sendiri tanpa muhrim... sedang di lain waktu saat ada kaka ipar atau waktu beberes rumah... saya bilang " You have a foreign maid, I am so expensive " (bagi saya amat mahal karena tak bisa di gaji dengan UANG)

Suatu waktu kedua anak saya menawari suami saya potato chips, anak saya bilang "mama gak sharing makanan sama baba". Suami saya menjelaskan, siapa bilang mama ga sharing... "mama and baba always share things, therefor you both are here" lalu saya bilang ke anak saya... "baba berbagi uang ke mama dan mama masak makanan lalu berbagi ke baba"

Inilah yang saya pelajari, bahwa menikah adalah berbagi, berbagi perasaan, berbagi cinta, berbagi waktu, berbagi ilmu.

Terakhir kata, wanita dan pria disatukan dalam pernikahan yang diikatkan oleh Allah SWT bukan oleh manusia. Maka aturan dalam berumah tangga haruslah aturan Allah swt. Allah mengatur posisi pria sebagai suami dan wanita sebagai istri. Walau dibelakang pasti ada nafsu yang mengikuti tapi lagi-lagi Allah SWT mengatur bagaimana nafsu-nafsu itu dikendalikan bukan dimatikan.

Semoga tulisan ini membuka mata kita bahwa sesungguhnya karena cinta Allah lah kita mencintai pasangan kita, berkorban demi dia, dan menjadi jalan kita menggapai RIDHO-NYA

Wednesday, September 30, 2009

Berita Gembira untuk Para Istri Sholiha

Berita Gembira untuk Para Istri Sholiha

Membuka kembali buku-buku yang sengaja dibawa saat hijrah ke tanah dimana jamaah tabliq memulai pergerakannya, Pakistan, aku menemukan halaman yang sungguh menyemangati hari-hariku lagi... seperti tanah yang gersang tersiram air hujan... tak begitu membanjiri namun cukup menghilangkan dahaga ruh ini....

Sebuah kisah tentang sahabiyah yang mempertanyakan pahala kaum wanita...

Ia adalah Asma bin Yazid Anshari r.ha yang mendatangi rosulullah saw. Ia menemui Rosulullah saw, dan berkata:

“ Ya Rasulullah, Saya datang sebagai utusan kaum wanita, sungguh engkau adalah utusan Allah untuk kaum laki-laki juga wanita. Untuk itu kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah dan
kepadamu.

Kami senantiasa tinggal didalam rumah saja, tertutup dalam hijab-hijab, dan senantiasa sibuk menunaikan keperluan serta keinginan suami, kami senantiasa mengasuh anak-anak.

Sedangkan kaum laki-laki... senantiasa mendapat pekerjaan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri shalat jumat, dapat ikut shalat lima waktu bejamaah, menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, dapat pergi haji, dan yang paling utama mereka dapat berjuang di medan jihad.

Jika mereka haji, umrah, ataupun jihad, maka kamilah yang menjaga harta-hartamereka, menjahitkan pakaian mereka, juga memelihara anak-anak mereka, maka apakah kami tidak mendapat pahala yang sama dengan mereka?”

Rosulullah mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudiann beliau berpaling kepada para shahabatnya. Beliau saw, bersabda:

“ Apakah kalian sudah mendengar suatu pertanyaan seorang wanita yang lebih baik daru pertanyaan wanita ini.”

Sahabat ra. Berkata:

“Ya Rosulullah saw. Bahkan kami tidak mengira bahwa wanita bisa bertanya seperti itu.”

Lalu Rosulullah berpaling kearah Asma r.ha. Dan bersabda:

“ Dengarkanlah dengan baik dan perhatikan, sampaikanlah kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu ke sini. Jika para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu menaatinya, melayani dengan baik, dan selalu berusaha membuat suaminya selalu gembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan maka kalian akan mendapat pahala yang sama dengan kaum laki-laki”

Subhanallah seperti layaknya Asma r.ha yang bergembira mendengar jawaban Rosulullah sudah pasti aku juga merasa lebih dari bahagia...

Sayang namun sayang... bercermin dan melihat diri sendiri... jauh sungguh jauh dari akhlak para shabiyah.r.ha.. namun inshaAllah aku terus berusaha... kalau tidak entahlah akan berakhir dimana ruh ini... dan deraan pasti menimpa jasad ini dalam liang kubur... karena Rosulullah sendiri bersabda dengan mengucap “demi Allah” bahwa seorang istri tidak dapat memuhi hak-hak Allah swt. Sebelum ia memenuhi hak-hak suaminya... (Astaghfirullah... ) dan Rosulullah sendiri mengatakan jika saja Allah mengijinkan seseorang bersujud selain Allah maka para istri diperintahkan untukk sujud kepada suami...

Susah susah gampang tapi inshaAllah kalau dicoba dan terus mengingat jawaban Rosulullah kepada Asma r.ha bisa... ikhlas... ikhlas... ikhlas...